PETANG ketika kujambangi dia pulang kuliah, aku sudah menyodorkan sekuntum senyum. Jantungku seliwer sangat kencang. Setelah saling pandang sejenak, aku dan dia melangkah entah kemana. Nongkrong di cafe, atau lesehan di joglo. Akh… perasaan seperti itu tak pernah lagi kurasakan, sejak tiga tahun lalu aku pacaran dengan dia.
Lelaki itu kata dia semua buaya, tak jauh beda dengan prinsip ekonomi. Modal sedikit tapi untungnya mau banyak. Juntrungnya? Puas dengan seorang gadis maka blas! Usailah semua.Jelasnya, percintaanku dengan dia bukan yang disebut cinta pertama. Walau aku telah mengenalnya frontal tapi aku tidak pernah mengungkapkannya. Karena aku tau dia tak punya perasaan apa-apa padaku. Siapa yang mau sama aku— lelaki kuli tinta yang tak istimewa, jungkis dan berambut gondrong.
Hingga suatu ketika berhembus juga berita itu ke telinga dia. Entahlah siapa yang membocorkannya. Dan sejak saat itu aku gelisah. Walau satu sisi perasaanku lega, tapi sejatinya kegelisahanku adalah: takut malu! Sial! Benar saja. Dia mendatangi aku dengan mimik angkuh, menyemprot aku dengan kata-kata pedas. “Eh! Kalau senang sama cewek jangan jadi pengecut. Berani cuma di belakang. Tapi mulut ngerocos kesana kemari. Eh! Aku bilang sama kau! Jangan sok patenlah,” kata dia tajam, sukses mengiris hatiku. Sejak kejadian itu, aku sebagai ayam yang keok usai disabung. Tapi harus kuakui, aku jadi sering memperhatikan dia.
Bagiku dia wanita tercantik di bumi tempat tinggalku. Teman-temanku juga banyak yang setuju dengan kecantikan dia. Matanya bulat berbinar-binar, alisnya panjang beriring, pipinya merah rona merona, dan akh… bibirnya berwarna merah jambu. Tapi entahlah kenapa, sejak kata-kata pedas dia padaku, dia menjelma sebagai wanita kalem, sopan, dan… wajahnya semakin manis saja. Terlebih jika kebetulan aku dan dia berada dalam satu pertemuan. Tingkah dia semakin saja aneh.
Entahlah dia mulai tergugah atau merasa bersalah. Jelasnya kubiarkan hatiku mengekor di hati dia, dan pada akhirnya dia terjebak, masuk perangkap. Singkat cerita aku dan dia sudah saling sapa. Ngobrolin apa saja, mulai cerpennya Seno Gumira Aji Dharma, novelnya Ahmad Tohari, sampai ngebahas sepakbola. Ternyata aku dan dia punya kesamaan hobi.
Jujur saja! Aku heran kenapa aku bisa sedekat ini dengan dia. Padahal kalau kuingat pacar-pacar dia yang dulu, jauh dan sangat jauh lebih tampan dari aku. Jika aku dapat poin empat, maka mantan pacar-pacar dia itu dapat poin delapan. Tapi sekali lagi, Jujur! Aku heran kenapa aku bisa berpacaran dengan dia. Dan ketika itu kujadikan pertanyaan? Dia cuma bilang: ‘Kau lelaki jujur’. Aku besar kepala.
Akh…sekarang aku tidak lagi bersama dia. Walau tak ada kata-kata putus, kami sudah jalan sendiri-sendiri. Tak ada komunikasi. Tapi kudengar-dengar dia sudah punya pacar baru. Kata yang kudengar-dengar itu, pacar baru dia kerja di perusahaan handphone.Aku harus jujur. Ketika berita itu menjambangiku untuk yang pertama kali, aku sebagai lelaki gila. Kupecahkan malam, kusepak bintang, kulempar bulan. Aku menjadi lelaki temprament. Mulai bermurung dan sensitif terhadap kebisingan.
Tak terasa menit mengejar hari mendatangi bulan dan menyapa tahun. Rupanya waktu terlalu cepat berputar. Dan hari ini, tepat tiga tahun setelah aku tak pernah lagi bertemu dengan dia, aku kembali ke kampung halaman, berdiri lesu di gundukan tanah di depan rumah dia. Tubuhku telah menyongsong di depan rumah dia. Tak kulepas mataku melototi teras rumah yang dipijari lampu neon warna merah dengan seperangkat meja-kursi– di atasnya sebuah vas dengan sejemput mawar putih. Dulu di teras itu aku duduk, menunggu dia berkemas merias, sebelum kami pergi kencan.
Jika mengenangnya aku cuma bisa senyam-senyum dalam hati. Bila masa teringat dia marah? Aura dia sebagai es menghadapi aku. Biar begitu, aku bukannya berusaha mencairkan suasana, malah aku lebih dingin lagi sebagai salju. Memang aku tau akibatnya pasti buruk, dia merajuk, wajahnya layu, hingga kemudian kakinya menghentak bumi lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dengan wajah tajam. Padahal masalahnya sepele: telat ngajak dia kencan.
Perangai dia itu jualah yang yang mempengaruhi aku untuk mulai berani selingkuh. Hingga akhirnya tak ada lagi kusisakan buat kencan dengan dia, sejak aku harus bertugas di luar kota dan pacaran dengan seorang mahasiswi yang jauh lebih dewasa dari dia.
Sekarang kupandangi sekeliling rumah dia. Tak ada yang asing. Semua masih seperti dulu, hanya saja tak kutemukan lagi jejeran bunga mawar bervas putih, berjejer di tepian tembok teras samping rumah dia. Akh… terbayang lagi momen-momen indah bersama dia, wajah dia yang sejuk itu saja sudah membuat nafasku naik-turun. Apalagi saat mengenang awal pacaran, rasanya aku sangat bangga menjadi jodohnya.
“Tak usah dikenang lagi, kan sudah lama berlalu,” kata dia ketika aku dipersilahkan masuk dan duduk di teras rumah. “Iya, aku sudah tak ingat lagi kok,” kata dia pula lagi, bermimik misteri.
Sial! Tak berapa lama aku ketika hendak berbagi nostalgia, sekelebat sepedamotor parkir di depan teras. Aku sempat menutupi wajah dengan tangan kiri karena sorot lampu sepedamotor itu menyiprak wajahku, kemudian seorang lelaki bergaya rapi turun lalu mendatangi kami.
“Maaf aku telat, banku bocor dan terpaksa kutempel di simpang sana,” kata lelaki itu dengan koreografi percaya diri, tentu bukan ditujukan kepada aku. “Ayolah kita pergi biar nanti pulangnya tak kemalaman,” katanya lagi, lagi-lagi dengan koreografi percaya diri.
Kulihat dia belum beranjak, “maaf aku harus pulang,” kubilang singkat dengan wajah serius. Dia dan lelaki itu memandangiku, tapi dia tidak menjawab malah masuk ke dalam rumah, lima menit kemudian dia keluar dengan riasan apa adanya, tak seperti riasan ketika aku mengajaknya kencan. “Yuk biar jangan kemalaman nanti,” kata dia ke lelaki itu dengan sesekali menyibak rambutnya yang hendak diikat.
Aku hanya termangu memandang kepergian dia bersama lelaki itu. Aku pun melangkah menyeret malam. Kepergian dia berubah geram di hatiku. Tak kurasa lagi getaran-getaran indah ketika bersama dia. Kujambret sebiji kerikil kulempar ke arah dua ekor kucing yang sibuk berkelahi dengan suara gaduh. Dasar kucing! Bukannya kabur malah bertambah gaduh. Geram! Kudatangi, kusepak seekor, baru kedua ekor kucing itu kabur.
Hingga kemudian ketika aku hendak beranjak dari rumah dia, telingaku menangkap derap langkah tergesa-gesa. Ternyata dia. Kuterka dia hendak menjemput sesuatu yang tertinggal di rumah. Tapi tidak, dengan wajah angkuh dia mencengkeram lenganku, menarik aku ke samping rumahnya. Ditinjunya dadaku berulang-ulang sekuat tenaga. Diremasnya rambutku dengan jambakan kencang.
Ditendangnya pagar bambu yang ada di sampingku sampai roboh, lalu dia menangis memecah malam. “Kalau kau masih membiarkan aku dijemput lelaki itu, aku bersumpah tak akan pernah mencintaimu lagi! Kalau kau masih membiarkan dia mengapeliku, aku bersumpah akan mencincangmu! Akan kulenyapkan kau dari bumi ini. Tau…!”
Kepala dia menempel di dadaku, dan ketika kuangkat kepala dia, aku menemukan sepasang pipi merah rona merona, mata bulat lembab menganak sungai, alis panjang beriring naik-turun. Akh… perasaan yang membuat jantungnya seliwer sangat kencang. Persis seperti dulu, saat aku mengenal dia tiga tahun lalu, sore-sore ketika kujambangi dia pulang kuliah. *** (Alvin Nasution)
Tomuan, 27 Juli’06
Klik disini untuk melanjutkan »»