20090411

7 KIAT JADI PEMIMPIN SEJATI

. 20090411
0 comments

Ada pemimpin yang dilahirkan dan ada pula yang memang terlahir jadi pemimpin. Masalahnya, menjadi pemimpin yang sejati memang tidak mudah. Banyak kriteria yang harus dimilikinya sehingga membuat bawahan merasa aman dan nyaman dalam bekerja. Nah di bawah ini7 tanda yang memisahkan antara seorang pemimpin sejati dan seorang pemimpin yang kebetulan menjadi pemimpin.

1. Pemimpin sejati mampu memimpin dirinya sendiri.
Memberi instruksi adalah sama mudahnya seperti Anda membagikan kartu nama. Tapi seorang pemimpin sejati harus mengetahui bagaimana caranya memimpin dirinya sendiri. Tidak hanya memberikan contoh baik kepada karyawannya, tetapi ikut berperan serta, bekerja, atau terlibat dalam seluruh pekerjaan. Adalah penting bagi seorang pemimpin memiliki kemampuan memfokuskan dan memotivasi dirinya sendiri seperti dia menganjurkan pada seluruh bawahannya untuk memiliki motivasi.

2. Jangan jadikan kerajaan.
Pemimpin yang bijaksana berarti (seakan-akan) Anda telah mempunyai bakat untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ingat, jangan ciptakan sebuah kerajaan. Pemimpin yang secara kebetulan jadi bos, sering juga secara kebetulan membentuk suatu sistem aturan yang tidak perlu dan terlalu mengekang. Aturan bagi karyawan memang perlu, tapi tak perlu berlebihan. Buatlah yang perlu-perlu saja. Memang penting untuk memengaruhi orang-orang dengan siapa Anda bekerja. Tapi ingat, jangan memandang kedudukan Anda sebagai suatu hierarki.

3. Selalu terbuka mencari bentuk baru.

Salah satu kunci keberhasilan dari menjalankan bisnis adalah mengulang-ulang sesuatu yang terbukti berhasil. Masalahnya, seorang pemimpin yang secara kebetulan jadi pemimpin, cenderung terus saja mengulang metode tadi dan tak berani melakukan terobosan baru. Sebaliknya, pemimpin sejati mengakui keberhasilannya tetapi juga
menyadari bahwa selalu ada jalan lain untuk membuat sesuatu lebih baik lagi.

4. Kepribadian kuat & tanggung jawab.
Memang benar Anda yang memegang kekuasaan. Tapi itu tak berarti Anda boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Jangan hanya menuntut bawahan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, tapi Anda pun harus memberi contoh yang
baik. Jangan lupa, Anda adalah panutan mereka.

5. Menuntaskan pekerjaan.
Banyak pemimpin berkata, "permainannya" telah selesai. Padahal, seorang pemimpin sejati, tidak akan pernah merasa selesai bekerja. Tiap hari pasti ada masalah baru yang harus segera dituntaskan. Entah komplain dari klien atau bawahan yang membuat ulah. Jadi, jangan pernah bosan membuat suatu tujuan yang pragmatik dengan ukuran yang dapat dihitung kapan harus dimulai dan berakhir. Kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu merupakan tantangan.

6. Beri penghargaan selayaknya.
Pemimpin sejati harus mempunyai tangan yang kuat sepertisi Popeye setiap kali habis makan bayam. Prestasi yang baik menuntut timbal baik yang riil. Pemimpin yang mempunyai mata jauh ke depan sangat dikagumi dan dihargai, tetapi haruslah dengan sesuatu tindakan yang nyata pula, misalnya memberi promosi, bonus, dan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi karyawan. Hal ini akan membuat karyawan terus termotivasi bekerja dengan baik dan bersikap loyal terhadap perusahaan.

7. Tak berhenti belajar.

Jauh sebelum para eksekutif ber-pendapat bahwa keahlian memimpin berasal dari semacam anugerah yang menakjubkan, tetap saja seorang pemimpin yang dapat dipercaya juga berarti harus terus dan banyak belajar. Bacalah buku-buku mengenai menjadi pemimpin yang efektif, ikutilah seminar-seminar, dan ambil contoh-contoh dari teman-teman yang telah berhasil. Hal ini bisa merupakan suatu pelajaran yang panjang, tetapi yang didapat akan berlipat ganda, dan tidak ternilai harganya.

Klik disini untuk melanjutkan »»

20090404

Tips Tampil Percaya Diri

. 20090404
0 comments

Tidak mudah bagi setiap orang memiliki rasa percaya diri atau \'pede\'. Terlebih bagi seorang wanita, kecenderungan dominasi perasaan pada diri setiap wanita-lah yang justru membuat kaum Hawwa sering mempunyai masalah kepercayaan diri ini.
Padahal, sikap yang satu ini tak pelak lagi menjadi sikap mutlak bagi Anda yang ingin sukses dan maju. Bagi yang masih merasa kurang pede, tidak ada rumus atau terapi khusus untuk mendapatkan kepercayaan diri itu secara sempurna. Anda hanya cukup melakukan hal-hal yang positif dari hari ke hari hingga rasa pede ini akan timbul dengan sendirinya.

Untuk itu, Anda dapat mencoba menerapkan strategi sederhana berikut dan rasakan hasilnya.
  1. Gerakkan Tubuh, Sempatkan untuk bergerak kapan pun Anda punya waktu luang. Yang sederhana yang bisa anda lakukan, seperti naik tangga dan bukan lift (di lingkungan kantor). Yang rutin, Anda bisa bersepeda, lari atau berenang. Olah raga (gerak badan) pada dasarnya dapat menyehatkan terutama otak dan paru-paru, meningkatkan stamina dan daya tahan, juga mengontrol emosi seperti rasa ingin marah bahkan rasa frustasi. Gerak badan yang teratur akan berakibat positif terhadap tubuh Anda; pertama, wajah yang kelihatan lebih segar. Kedua, tubuh yang bugar dan tak lekas lelah. Mulailah sekarang juga!
  2. Perhatikan Gaya Berbusana Anda, Bicara busana bukan berarti bicara mode. Yang terpenting adalah bagaimana kita ingin orang lain menilai kita saat pertama mereka bertemu kita. Bukan tak mungkin mereka akan merasa tak akan nyaman, apalagi percaya terhadap orang yang mengenakan busana asal jadi saja. Sekarang tanyakan pada diri Anda setiap saat Anda mematut-matut busana untuk pergi kantor; \"Bagaimana Anda ingin orang melihat Anda?\", \"Siapa orang yang ingin Anda temui hari ini?\", \"Apa kesan orang lain terhadap Anda?\". Beberapa hal untuk diperhatikan: Ukuran baju, baik baju jahitan atau yang dibeli di toko, perhatikan agar ukurannya sesuai dengan tubuh Anda. Bukan yang terlalu pas cenderung kekecilan atau yang kebesaran. Kebersihan dan Kerapihan baju. Perhatikan apakah baju Anda sudah kusam warnanya, atau ada benang/kancing yang lepas. Hal-hal kecil seperti ini bisa merusak penampilan sekaligus membuat Anda tampak seperti orang yang sembrono. Kondisi Sepatu. walau busana Anda sudah rapi, kondisi sepatu yang kotor atau yang ada cacatnya bisa mengurangi \'nilai\' penampilan Anda, percuma kan? Tersenyumlah, jangan pasang wajah muram, apa salahnya sih menyunggingkan senyum yang segar dan optimis? Dengan tersenyum, dijamin Anda akan merasa lebih baik!
  3. Bernapaslah, Saat-saat sibuk di kantor kadang bisa membuat Anda mudah tersinggung, sensitif bahkan lekas marah. Untuk menyiasatinya, \'curilah\' sedikit waktu untuk menyendiri dan bernapaslah dengan optimal. Caranya? Tarik napas sampai perut menjadi kempis dan hembuskan sebebas-bebasnya dengan \'menjatuhkan\' perut sampai Anda terasa lega. Lakukan dimana saja, di ruang kantor, di lift atau di kamar mandi. \'Waktu bernapas\' ini akan membantu Anda untuk kembali berenerji dan bekerja dengan lebih tenang.
  4. Disiplin, Usahakan untuk menepati semua janji yang telah Anda buat. Hadirlah tepat waktu dan fokuskan diri Anda saat bertemu seseorang atau memimpin rapat misalnya. Jika Anda disiplin terhadap semua hal, orang lain juga akan menilai Anda sebagai orang yang bisa dipercaya dan bisa diajak bekerjasama, singkatnya; profesional!
  5. Memberi & Menerima, Berikan apa yang Anda inginkan. Contohnya, jika Anda ingin dihargai, hargailah orang lain. Jika Anda ingin sukses, bantulah orang lain untuk bisa sukses juga atau jika Anda ingin merasa bahagia, bahagiakanlah orang lain.

Percayalah, saat Anda mengeluarkan enerji yang positif, itu artinya Anda juga menciptakan sebuah atmosfir yang positif pula.

Setelah membaca tips di atas mungkin Anda akan berpikir \"Mana mungkin hanya dengan melakukan hal-hal mudah seperti itu kepercayaan diri saya akan bertambah?\". Kalau begitu, buktikan saja sendiri. Karena kebanyakan orang sukses yang kepercayaan dirinya baik, lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang sederhana dan mudah dari pada hal-hal yang kompleks dalam menjalani hidupnya. (bay/hanyawanita)





Klik disini untuk melanjutkan »»

Petang, Ketika Kujambangi Dia Pulang Kuliah

.
0 comments

PETANG ketika kujambangi dia pulang kuliah, aku sudah menyodorkan sekuntum senyum. Jantungku seliwer sangat kencang. Setelah saling pandang sejenak, aku dan dia melangkah entah kemana. Nongkrong di cafe, atau lesehan di joglo. Akh… perasaan seperti itu tak pernah lagi kurasakan, sejak tiga tahun lalu aku pacaran dengan dia.
Lelaki itu kata dia semua buaya, tak jauh beda dengan prinsip ekonomi. Modal sedikit tapi untungnya mau banyak. Juntrungnya? Puas dengan seorang gadis maka blas! Usailah semua.Jelasnya, percintaanku dengan dia bukan yang disebut cinta pertama. Walau aku telah mengenalnya frontal tapi aku tidak pernah mengungkapkannya. Karena aku tau dia tak punya perasaan apa-apa padaku. Siapa yang mau sama aku— lelaki kuli tinta yang tak istimewa, jungkis dan berambut gondrong.
Hingga suatu ketika berhembus juga berita itu ke telinga dia. Entahlah siapa yang membocorkannya. Dan sejak saat itu aku gelisah. Walau satu sisi perasaanku lega, tapi sejatinya kegelisahanku adalah: takut malu! Sial! Benar saja. Dia mendatangi aku dengan mimik angkuh, menyemprot aku dengan kata-kata pedas. “Eh! Kalau senang sama cewek jangan jadi pengecut. Berani cuma di belakang. Tapi mulut ngerocos kesana kemari. Eh! Aku bilang sama kau! Jangan sok patenlah,” kata dia tajam, sukses mengiris hatiku. Sejak kejadian itu, aku sebagai ayam yang keok usai disabung. Tapi harus kuakui, aku jadi sering memperhatikan dia.
Bagiku dia wanita tercantik di bumi tempat tinggalku. Teman-temanku juga banyak yang setuju dengan kecantikan dia. Matanya bulat berbinar-binar, alisnya panjang beriring, pipinya merah rona merona, dan akh… bibirnya berwarna merah jambu. Tapi entahlah kenapa, sejak kata-kata pedas dia padaku, dia menjelma sebagai wanita kalem, sopan, dan… wajahnya semakin manis saja. Terlebih jika kebetulan aku dan dia berada dalam satu pertemuan. Tingkah dia semakin saja aneh.
Entahlah dia mulai tergugah atau merasa bersalah. Jelasnya kubiarkan hatiku mengekor di hati dia, dan pada akhirnya dia terjebak, masuk perangkap. Singkat cerita aku dan dia sudah saling sapa. Ngobrolin apa saja, mulai cerpennya Seno Gumira Aji Dharma, novelnya Ahmad Tohari, sampai ngebahas sepakbola. Ternyata aku dan dia punya kesamaan hobi.
Jujur saja! Aku heran kenapa aku bisa sedekat ini dengan dia. Padahal kalau kuingat pacar-pacar dia yang dulu, jauh dan sangat jauh lebih tampan dari aku. Jika aku dapat poin empat, maka mantan pacar-pacar dia itu dapat poin delapan. Tapi sekali lagi, Jujur! Aku heran kenapa aku bisa berpacaran dengan dia. Dan ketika itu kujadikan pertanyaan? Dia cuma bilang: ‘Kau lelaki jujur’. Aku besar kepala.
Akh…sekarang aku tidak lagi bersama dia. Walau tak ada kata-kata putus, kami sudah jalan sendiri-sendiri. Tak ada komunikasi. Tapi kudengar-dengar dia sudah punya pacar baru. Kata yang kudengar-dengar itu, pacar baru dia kerja di perusahaan handphone.Aku harus jujur. Ketika berita itu menjambangiku untuk yang pertama kali, aku sebagai lelaki gila. Kupecahkan malam, kusepak bintang, kulempar bulan. Aku menjadi lelaki temprament. Mulai bermurung dan sensitif terhadap kebisingan.
Tak terasa menit mengejar hari mendatangi bulan dan menyapa tahun. Rupanya waktu terlalu cepat berputar. Dan hari ini, tepat tiga tahun setelah aku tak pernah lagi bertemu dengan dia, aku kembali ke kampung halaman, berdiri lesu di gundukan tanah di depan rumah dia. Tubuhku telah menyongsong di depan rumah dia. Tak kulepas mataku melototi teras rumah yang dipijari lampu neon warna merah dengan seperangkat meja-kursi– di atasnya sebuah vas dengan sejemput mawar putih. Dulu di teras itu aku duduk, menunggu dia berkemas merias, sebelum kami pergi kencan.
Jika mengenangnya aku cuma bisa senyam-senyum dalam hati. Bila masa teringat dia marah? Aura dia sebagai es menghadapi aku. Biar begitu, aku bukannya berusaha mencairkan suasana, malah aku lebih dingin lagi sebagai salju. Memang aku tau akibatnya pasti buruk, dia merajuk, wajahnya layu, hingga kemudian kakinya menghentak bumi lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dengan wajah tajam. Padahal masalahnya sepele: telat ngajak dia kencan.
Perangai dia itu jualah yang yang mempengaruhi aku untuk mulai berani selingkuh. Hingga akhirnya tak ada lagi kusisakan buat kencan dengan dia, sejak aku harus bertugas di luar kota dan pacaran dengan seorang mahasiswi yang jauh lebih dewasa dari dia.
Sekarang kupandangi sekeliling rumah dia. Tak ada yang asing. Semua masih seperti dulu, hanya saja tak kutemukan lagi jejeran bunga mawar bervas putih, berjejer di tepian tembok teras samping rumah dia. Akh… terbayang lagi momen-momen indah bersama dia, wajah dia yang sejuk itu saja sudah membuat nafasku naik-turun. Apalagi saat mengenang awal pacaran, rasanya aku sangat bangga menjadi jodohnya.
“Tak usah dikenang lagi, kan sudah lama berlalu,” kata dia ketika aku dipersilahkan masuk dan duduk di teras rumah. “Iya, aku sudah tak ingat lagi kok,” kata dia pula lagi, bermimik misteri.
Sial! Tak berapa lama aku ketika hendak berbagi nostalgia, sekelebat sepedamotor parkir di depan teras. Aku sempat menutupi wajah dengan tangan kiri karena sorot lampu sepedamotor itu menyiprak wajahku, kemudian seorang lelaki bergaya rapi turun lalu mendatangi kami.
“Maaf aku telat, banku bocor dan terpaksa kutempel di simpang sana,” kata lelaki itu dengan koreografi percaya diri, tentu bukan ditujukan kepada aku. “Ayolah kita pergi biar nanti pulangnya tak kemalaman,” katanya lagi, lagi-lagi dengan koreografi percaya diri.
Kulihat dia belum beranjak, “maaf aku harus pulang,” kubilang singkat dengan wajah serius. Dia dan lelaki itu memandangiku, tapi dia tidak menjawab malah masuk ke dalam rumah, lima menit kemudian dia keluar dengan riasan apa adanya, tak seperti riasan ketika aku mengajaknya kencan. “Yuk biar jangan kemalaman nanti,” kata dia ke lelaki itu dengan sesekali menyibak rambutnya yang hendak diikat.
Aku hanya termangu memandang kepergian dia bersama lelaki itu. Aku pun melangkah menyeret malam. Kepergian dia berubah geram di hatiku. Tak kurasa lagi getaran-getaran indah ketika bersama dia. Kujambret sebiji kerikil kulempar ke arah dua ekor kucing yang sibuk berkelahi dengan suara gaduh. Dasar kucing! Bukannya kabur malah bertambah gaduh. Geram! Kudatangi, kusepak seekor, baru kedua ekor kucing itu kabur.
Hingga kemudian ketika aku hendak beranjak dari rumah dia, telingaku menangkap derap langkah tergesa-gesa. Ternyata dia. Kuterka dia hendak menjemput sesuatu yang tertinggal di rumah. Tapi tidak, dengan wajah angkuh dia mencengkeram lenganku, menarik aku ke samping rumahnya. Ditinjunya dadaku berulang-ulang sekuat tenaga. Diremasnya rambutku dengan jambakan kencang.
Ditendangnya pagar bambu yang ada di sampingku sampai roboh, lalu dia menangis memecah malam. “Kalau kau masih membiarkan aku dijemput lelaki itu, aku bersumpah tak akan pernah mencintaimu lagi! Kalau kau masih membiarkan dia mengapeliku, aku bersumpah akan mencincangmu! Akan kulenyapkan kau dari bumi ini. Tau…!”
Kepala dia menempel di dadaku, dan ketika kuangkat kepala dia, aku menemukan sepasang pipi merah rona merona, mata bulat lembab menganak sungai, alis panjang beriring naik-turun. Akh… perasaan yang membuat jantungnya seliwer sangat kencang. Persis seperti dulu, saat aku mengenal dia tiga tahun lalu, sore-sore ketika kujambangi dia pulang kuliah. *** (Alvin Nasution)
Tomuan, 27 Juli’06

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com